Wajah Indonesiaku Yang Sesungguhnya

NOTE: Postingan kali ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya, dan sangaaaat panjang (1200 kata). Yang gak berminat membaca, jangan memaksakan diri daripada terkena serangan kantuk dan ninggalin komen aneh-aneh.

Tumbuh di Jepara, lalu mulai beranjak ke Kudus, Semarang, Yogyakarta, Jakarta, Surabaya lalu terbang ke USA.

Banyak temanku yang memanggilku Nomaden, soalnya nggak pernah menetap disuatu tempat lebih dari 2 tahun di satu tempat. Meski masih di dalam kota yang sama sekalipun, tempat tinggalku selalu berpindah. Ada yang merasa kasihan, tetapi gak jarang ada yang iri dan mengangggapku keren *cling* —

Jepara, kota kecil menepi dibagian utara Jawa Tengah. Aku tidak jauh berbeda dengan anak-anak kecil yang tergila-gila dengan layangan, mercon, enggrang, dakocan, bekel, dan permainan kampungan lainnya yang kalau kutulispun kamu gak bakal mengerti, kecuali memang kamu benar-benar wong ndeso (orang kampungan) :) — Aku wong ndeso. Ndeso banget…

Seiring dengan perkembangan otak ku yang encer ini, puji Tuhan aku nggak pernah tinggal kelas, dengan lancar aku menyelesaikan masa-masa SMP SMU ku di Semarang, dan akhirnya aku menapakkan kaki ke Yogyakarta untuk menyelesaikan kursus intensif design selama 2 tahun.

Merupakan awal pertemuanku dengan berbagai macam manusia yang kebanyakan adalah pelajar, datang dari luar kota dan pulau, misalnya: Batam, Medan, Aceh, Riau, Lampung, Pontianak, Maluku, Samarinda, Madiun, Bali, Klaten, Solo, mulai dari yang make-up nya tebel sampai yang dekil dan hitam pekat kulitnya. Mulai dari yang rambut pendek ala Polisi hingga yang gondrong ala Tao Ming Se, semuanya ada.

Yogyakarta, kota yang ramah. Semua pendatang, datang ke kota ini dengan itikad baik, untuk belajar. Yah, walau mungkin ada sebagian yang datang buat kawin dan kumpul kebo, terserah lah. Nafsu muda membara… Di sana juga Kopdar pertamaku terjadi dengan para blogger kondang, jaman #Bloggerian masih populer :) (eh sekarang masih juga dink).

Dengan mayoritas kental yang beragama Islam, paling seru kalau memasuki bulan puasa. Warung-warung pada tutup! Jadinya, aku yang bukan Muslim ini kadang jadi panik sendiri mencari makan. Akhirnya, sering aku jadi ikutan puasa, sahur jam 4 pagi bersama dengan teman-teman jajan di warung belakang rumah kost, terus minum air putih aja seharian (puasa makan doang hahaha) dan tentu saja, Rokok! :)

Saat Lebaran tiba, beberapa kali aku juga diajak berkunjung ke tempat tinggal mereka mulai dari Cilacap, Solo, Purwokerto, Bandung dan Jakarta, untuk ikut berjamu bersama keluarga mereka, makan ketupat, suguhan kolak dan enak-enak lainnya ^_^

Dengan seluruh rangkaian kejadian itulah, aku terkadang justru sampai lupa sendiri sebuah fakta, yang terkadang agak risih untuk dijadikan bahan pembicaraan.

Aku adalah WNI keturunan Cina, dan aku bukan Muslim.

Walau waktu kecil kerap kali ada temanku yang memanggilku “Hoi Cino!” — tapi aku sama sekali nggak merasa risih atau gimana, malah kupanggil balik kepadanya “Opo Jowo!” dan kami pun tertawa bersama. Kadang juga ada sebutan “Cino Ireng!” segala (cina hitam).

Kalau aku melihat kembali kebelakang, aku jadi sadar kalau aku malah bergaul jauh lebih banyak dengan masyarakat pribumi, daripada golongan etnis Cina.

Ini mungkin menjadi alasan utamaku untuk menulis artikel kali ini. Melihat kondisi Indonesia yang akhir-akhir ini semakin nggak jelas mau kemana. Sebuah negara Republik Merdeka yang seharusnya adalah penganut idealisme Bhineka Tunggal Ika — mulai di jajah kembali oleh para fundamentalist dan ekstrimis untuk menjadikannya sebagai negara Islam.

Terasa semakin banyak huru-hara yang disebabkan karena bentrokan Etnis dan Agama. Dogma-dogma gak bener yang merasuk ke masyarakat luas, berkedok kepercayaan palsu dan keyakinan bahwa mereka bisa memasuki “Surga” dengan memberikan “Neraka” kepada orang yang berbeda kepercayaan.

Salah apa sih para non-muslim? Wong mereka juga nggak pernah nyabotase corong speakernya Mesjid diputerin lagu Disko.

Apa sih yang sebenarnya ada dibenak mereka? Atas dasar kebencian apa kok sampai mereka antipati habis-habisan dengan agama Kristen dan keturunan Cina?

Aku selalu berusaha menolak kalau ada yang berkata Indonesia adalah negara Islam, walau memang mungkin 90% penduduknya adalah pemeluk Islam. Aku juga menolak menganggap masyarakat Indonesia itu benci Amerika, Cina, Jepang, Korea, dan sebagainya. Aku juga menolak keras kalau orang Indonesia itu tukang bunuh dan perkosa keturunan etnis Cina.

Berapa banyak dari teman-teman ku (bukan orang Indo) dari Jepang, Singapore, Cina, yang sungkan datang ke Indonesia karena image yang sudah terlanjur rusak itu, bahwa Indonesia adalah negara Islam dan keras. Bahkan! Banyak sekali orang Indonesia sendiri yang datang di USA ini, malu mengakui kalau mereka adalah orang Indonesia. Seringkali ngelesnya bilang “I’m Singaporean.

Pengen marah tapi nggak bisa. Kenyataan pahit, tetapi mau bilang apa. Trauma bangsa dan dunia di waktu silam, tragedi 1998 pun sudah terlanjur melekat di benak setiap orang.

Tapi tahukah kamu?

Jepara; Gerombolan geng bermotor, mas-mas pribumi tukang bengkel yang kerjanya berantem dan godain cewek, sering ngasih aku permen setiap kali aku membelikan sebungkus rokok buat Papahku.

Jepara; Aku pernah ikut kampanye-nya PDI dan PPP naik Truk rame-rame bawa panji-panjinya, dan kemudian makan nasi bungkus bersama sama.

Kudus; Seorang pengamen kunyuk yang berusaha  merampasku sewaktu aku menolak memberinya uang dengan berkata “Kowe ki Cino, gak usah macem-macem” — yang justru seorang bapak-bapak tua berkopiah menghardiknya dengan sangat keras dan kencang “HOI! Cangkem mu kui dijogo!

Semarang; Pertemuanku dengan seorang sahabat ku, yang adalah orang berdarah kental Menado.

Yogyakarta; Teman-teman kostku, pemeluk Islam yang taat, mempersilahkan aku merokok, dan beberapa diantara mereka justru memboncengkanku mencari warung yang buka di saat bulan puasa, ketika aku bangun kesiangan (gak sempet sahur).

Surabaya; Orang Madura kental, pengguna batu akik 8 buah di jemari tangannya, yang mengajakku berjalan-jalan pertama kalinya ke Dolly (hehehe) — beramah-tamah dengan para kupu-kupu malam Indonesia asli. Bukan banci dan bukan jejadian. Dan tidak… aku tidak bercabul :)

Itulah wajah Indonesia yang aku pelajari semenjak aku bertumbuh dari kecil. Wajah palsu? Bukan, itu adalah wajah yang sebenarnya. Mengerti kalau setiap manusia itu berbeda dan beragam, kemudian berusaha untuk saling mengerti dan menerima.

Jangan pernah mengajarkan kalau semua manusia itu adalah sama. Manusia memang sama di mata Tuhan, tapi tetap saja berbeda di mata setiap manusia. Siapa sih kita? memainkan perannya Tuhan dan berusaha menjadikan setiap dari mereka adalah sama? Karena itulah aku nggak pernah terlalu risih ketika orang memanggilku “Cina” — asal dalam konteks berteman dan bukan ngajak ribut.

Dan satu lagi, aku menolak mengatakan mereka yang berbuat huru-hara, pembakar gereja-gereja, pembunuhan keturunan Cina dan pengebom para turis dari mancanegara, sebagai orang Indonesia. Mereka bukan orang Indonesia lagi. Mungkin KTP nya masih KTP Jepara, tetapi di hati mereka, adalah tak lebih dari sebuah pribadi yang tak berTuhan dan Indonesia tidak mengakui praktek Ateisme.

Ya, ekstrimis, perusak, vandalis, teroris, mereka bukan orang Indonesia, dan mereka bukan Islam. Entahlah siapa mereka… mungkin ada yang bisa diajak sadar diri dan kembali menjadi seorang Indonesia sejati, tetapi kadang ada yang memang nggak bisa ditolong lagi.

Aku gak mau dunia memandang Indonesia sebagai negara tak bermoral, biadab, dungu, gudang teroris dan rasis. Aku selalu dengan tegas dan jelas mengatakan “I’m from Indonesia” acapkali mereka bertanya dari mana asalku. Walau mungkin beberapa tahun mendatang aku mungkin akan melepaskan kewarga-negaraanku, tetap saja aku selalu berusaha membenarkan mindset salah dari seseorang tentang Indonesia yang jelek-jelek tadi ketika bercakap-cakap.

Bukan karena aku mau bergaya jadi pahlawan, atau sok patriotis, tetapi karena aku tahu seperti apa dan sebagaimana seharusnya wajah Indonesia itu.

Aku juga gak mau para turis dan bule-bule yang cantik itu menjadi takut untuk berkunjung ke Borobudur dan Prambanan, yang seharusnya bisa membantu menaikkan nyali dari rombongan anak-anak kost yang kebetulan bisa bahasa Inggris sedikit-sedikit untuk mencoba bercakap dengan mereka, sekalian berfoto-foto bersama untuk menjadi sebuah kenangan manis hingga suatu hari bisa disampaikan ke anak-cucu mereka, tersenyum dan berkata:

Eh… kakek dulu waktu muda pernah foto dengan bule cantik lho… Nih fotonya ^^;

Tolong jaga wajah Bangsa mu, dan terima kasih sudah menyimak.

Oh sampe lupa, semalam aku mbantal 8 jam 10 menit :)

  1. nah yang ini aku setuju. pelaku itu kan ‘oknum’, seharusnya jangan digeneralisir. tapi sayangnya media yang blow up itu semua.. BAH!

      • Dewa Bantal
      • March 27th, 2010 1:22am

      Iya begitu deh… gak cuman media juga, tapi memang banyak orang yang pertama kali mendengar sebuah negara bernama Indonesia karena kejadian-kejadian jelek tersebut.

    • sun.
    • March 27th, 2010 1:03am

    ga disangka bisa menulis seperti ini :)
    *ini tulus pujian loh bukan sindiran*

      • Dewa Bantal
      • March 27th, 2010 1:23am

      Hahaha, terimakasih kalo begitu :) — gak nyangka juga kamu ternyata membaca blog ku Sun. Hehehe.

  2. terima kasih, meski anda tlah jauh dan bahkan sy baca akan melepas wn, msh sempat unt ingatkan kita. mdh-mdhan pesan anda jd wahyu,.. jd alarm,..jd sirine bg kita, unt katakan c.u.k.u.p dan ber-ikrar unt tidak ingkar sbg bangsa yg bermatabat,…bener2 ter ‘heru’ (verb 3 dr terharu)

      • Dewa Bantal
      • March 27th, 2010 3:08am

      Ah, terima kasih pak. Aku baru dengar ada istilah terheru hahaha.

      Semoga saja waktu kembali ke Indo kelak, petugas imigrasinya bisa berlapang dada dan bukannya melihat aku sebagai yang katanya pengkhianat bangsa.

    • Messach
    • March 27th, 2010 2:15am

    wakakakakkakaka

    ada aja….. berdarah menado kental??? liat menado aja blom pernah…..T_T

    bahasa menado apalagi….wakakakakak cuman fam aja yg masih melekat

    kalo ngomong juga medhol bgt dah kaya orang jawa…. karena itu aku bangga menyebut diriku orang Indonesia Sejati….(hoek*….sok bgt ya…)

    sama sepertimu, aku juga org ga jelas yg malah punya lebih banyak teman dari etnis berbeda dan malah merekalah yg bener2 menjadi sahabatku…

    kalo kamu sih bukan temen ato sahabat lagi. kalo kamu cewe aku gak married sama oky tapi sama OKA…..

      • Dewa Bantal
      • March 27th, 2010 3:10am

      Ah sahabatku, ya kamu memang bukan orang Menado Kental, tapi BERDARAH menado kental which is … langsung dari sumbernya.
      Kamu sendiri orang Jepang kali ya? Huahaha.

      Perihal jadi istri, kalo aku cewek, aku gak mau jadi istrimu, karena aku sudah mengerti betapa brengseknya dirimu. Cuih.

  3. *speechless* keren dab postingannya!!

      • Dewa Bantal
      • March 27th, 2010 11:07am

      Makasih Muntilan.

  4. adanya tenggang rasa, toleransi, bla bla bla. adalah untuk menyatukan semua perbedaan.

    merdeka!!!

      • Dewa Bantal
      • March 27th, 2010 11:08am

      Horas!!

      • horas…
        abis beras makan gabah.. :D

        kata temen ku

          • Dewa Bantal
          • March 28th, 2010 5:54pm

          Haha apa pula itu.

    • Tazzikin
    • March 27th, 2010 8:39am

    what a great vision ;)

    hiks… TT__TT

      • Dewa Bantal
      • March 27th, 2010 11:09am

      Lha kok nangis… Ayo semangat, hahaha.

  5. jadi, kapan balik ke Indo????
    btw, mana foto kakeknya kok ngak ada, penasaran pengen liat

      • Dewa Bantal
      • March 27th, 2010 11:10am

      Itu cuman perumpamaan doang om, dan referring ke postingan ku sebelumnya. Belum baca ya? :)

  6. nomaden? gak repot kalau pindahan po?

      • Dewa Bantal
      • March 28th, 2010 7:55pm

      Ngga, udah biasa :)

  7. Pertama2 salut banget dengan tulisannya mas bantal :)
    Harus diakui ktika kita berada diluar banyak dari kita sungkan mengakui bahwa kita orang Indonesia. itu dikanakan sikap dari bangsa kita sendiri yg membuat jelek citra kita (lahh berapa kali “kita” nih … sorry ngelantur dah malem )

    Intinya aq juga heran dengan pemikiran2 picik sebagian orang yg masih memandang SARA.. dan semoga kita jauh dari golongan2 itu..

    Btw enak banget ya bisa pindah2 jd pengen.. :P

      • Dewa Bantal
      • March 28th, 2010 5:54pm

      Iya semoga pengerusakan mind-set masyarakat Indo sendiri bsia berhenti, terhadap para manusia ber etnis non-Indo. Pindah2 ya tinggal pindah, kok bingung :)

      Sandang Pangan Papan plus Kendaraan Handphone Duit Laptop dan Headphones — that’s all I need? xD

  8. Huahhh…emang panjang buanget storymu itu bang bantal…especially berkunjungnya pas malem2 gini..tapiaku juga ngerasain pengalaman yang sama kok..bedanya dirimu di jepara aku neng semarang. Kalo di kamboja sini nama Indonesia malah harum karena angkatan bersenjata disini dilatih oleh abri kita, sampai ngajarin paspampres sini merpati putih. Sering buka blogku juga..aku banyak ngeliput acara KBRI sini, lha wong rumahku cuman 3 menit dari KBRI je…haaaa

      • Dewa Bantal
      • March 28th, 2010 5:56pm

      Haha, sayangnya aku nggak begitu tertarik dengan masalah politik dan berita seputar pemerintahan. Tentu saja pasti banyak cerita2 harian yang menarik yang kamu liput selain para manusia berseragam itu kan? :)

  9. alooo..kok tulisanku gak muncul…mana banyak lagi…heeee

      • Dewa Bantal
      • March 28th, 2010 5:56pm

      Akimset, biasa.

  10. benar-benar nomaden nih mas bantal..
    mudah-mudahan bhineka tunggal ika tetep berjaya…

    huff.. ikut ngantuk juga rupanya saya baca puanjang gini.. tapi untungnya bisa sampek abis.. hehee..

      • Dewa Bantal
      • March 28th, 2010 5:57pm

      Sori bikin ngantuk, haha. Padahal harusnya bikin semangat.
      Ye, Bhineka Tunggal Ika itu landasan berdirinya Indonesia. Dari dulu dan (harusnya) sampe sekarang.

    • tary
    • March 28th, 2010 2:18am

    panjaaangggggg………tapi detail banget nig laporannya. btw pengalaman berpindah-pindah itulah sepertinya yang membuat diri kamu jadi mandiri bahkan bisa sampai USA, wowww itu keren banget dech menurut gw.
    gak ada perbedaan menurut gw, mau ras, bibit bobot suku, agama atau apalah yg penting tetep satu dan itulah yang bikin kita kaya. kalo inget pelajaran PMP waktu SD atau PPKN waktu SMP, pasti inget sikap toleransi dan tenggang rasa, yah meskipun di era sekarang kemungkinan banyak yg lupa.

      • Dewa Bantal
      • March 28th, 2010 5:57pm

      Bukan lupa, ingat, cuman gak tau kapan dan dimana harus dipraktekan teori-teori tersebut. Ya tho?

  11. waduh……,kadang malu juga melihat kondisi indonesia yang sekarang…..

      • Dewa Bantal
      • March 29th, 2010 4:17pm

      Sebetulnya banyak yang bisa dibanggakan, cuman orang sudah terlalu fokus kepada busuk-busuk nya ;-(

    • DV
    • March 28th, 2010 9:56pm

    Aku bangga dan akan selalu bangga menjadi orang indonesia.

    Bbrapa waktu lalu aku bertanya ke temanku, “Aku pengen ziarah ke Israel, tapi perang terus ya?”

    Lalu temenku bilang “Kamu jangan salah sangka. Memang ada perang tapi ngga se ekstrim yang diberitakan di koran-koran..”

    Aku lantas berujar “Brarti kayak orang2 US menilai Indo dong.. banyak teroris dan perang, padahal…”

    “Ya, tepat!” ujarnya..

    I really love Indonesia and proud to be indonesian..

      • Dewa Bantal
      • March 29th, 2010 4:33pm

      Hoo… aku baru tau kalo di Israel ngga separah yang dikatakan media O_O;

  12. Keren banget tulisannya bro…
    Apalagi pada bagian “Hoi Cino!” — tapi aku sama sekali nggak merasa risih atau gimana, malah kupanggil balik kepadanya “Opo Jowo!” dan kami pun tertawa bersama. Kadang juga ada sebutan “Cino Ireng!” segala (cina hitam).
    Tidak semua sebutan Cino/Jowo bermaksud mendiskriminasikan RAS bahkan kadang sangat mengakrabkan(Pengalaman hidup lama tinggal di Jogja dengan segala kemajemukannya)

      • Dewa Bantal
      • March 29th, 2010 4:34pm

      Haha, makasih atas sharingnya. Yogya memang asik. Kangen nongkrong2 di depan Istana hehehe.

    • aldy
    • March 29th, 2010 10:11am

    Salam Sahabat,
    Saya tertarik dengan domain MukaBantal dengan Avatar Bahu bertato.
    Membaca tulisan diatas mengingatkan diri saya yang sebenarnya. Saya berdarah China dan Dayak, kebetulan memeluk Islam. Makanya teman-teman saya sering memanggil saya dengn Dachin (Dayak China), Aceng dan lainnya. Tetapi saya sama dengan Sahabat, saay tidak tersinggung karena sebutan itu, bahkan kadang-kadang teman-teman akrab sering olok-olokan “Jangan dekat sama dia, dia tuh cina, suka bangsat”, saya kadang ngakak dan menjawab, “kamu saja yang bodoh mau dibangsatin sama cina kayak saya”.
    Peace Guy ! I like your posted.
    Salam dari pedalaman kalimantan.

      • Dewa Bantal
      • March 29th, 2010 4:36pm

      Thank you sudah mampir :) — Tapi ya perlu di ingat aja, walau bercanda jangan sampai terlewat kasar. Orang kalo sedang bad mood, semua perkataan bisa berkesan offensif buatnya.

      Apalagi sama orang yang ngga terlalu akrab, xD — Mungkin ada baiknya juga jangan dibiasakan, walau kita sendiri gak tersinggung.

  13. Yang jadi masalah pada posting panjang bukanlah tiada waktu untuk membacanya, tapi agak bingung bagian mana yang mesti dikomentari. Hahaha :D

    Yang penting saya sudah baca dan saya setuju dahhh :D

      • Dewa Bantal
      • March 30th, 2010 6:28pm

      Makasih deh :)

  14. bagusnya tulisanmu Cin, haha. Cino maksudku.
    Aku bangga kita berbeda, karena kita memang ditakdirkan Tuhan untuk berbeda, perbedaan itu indah lagi. Anarkisme bersumber dari banalitas pemahaman orang-orang itu ttg perbedaan, mereka amat sangat katro. Kemarin aku ikut diskusi multikulturalisme, narsumbnya Kang Moeslim Abdurrahman sama Romo Beni Setiawan. Menggugah nurani banget, dan membuatku kian bangga dengan negeriku ini sekaligus makin prihatin dengan para ekstrimis yang seolah-olah sudah menggenggam surga dengan kebiadaban yang kerap mereka perbuat. Aih, surga mana yang akan menerima mereka? ga yakin aku..

      • Dewa Bantal
      • March 30th, 2010 6:30pm

      Ya kita juga ga bisa dan jangan memutuskan surga neraka buat mereka deh. Bikin tinggi hati nanti :)

      Ah kupikir dirimu memanggilku Cinta ternyata Cino. Sakit hati dulu ah.

  15. Bagimanapun ini Indonesiaku yang akan aku jaga sampai titik darah penghabisan !!!!
    piye mas, apa sudah keliatah heroik teriakan ku itu :lol:
    salam hangat serta jabat erat selalu dari tabanan

      • Dewa Bantal
      • March 30th, 2010 6:34pm

      Lebih berkesan gombal daripada heroik *kabur*

  16. bangga jadi salah satu member bloggerian :D

    kapan ya ada gath lagi ?

      • Dewa Bantal
      • April 5th, 2010 5:41pm

      ^^; veteran bloggerian yah? Aku ga tau kalau gath ya… tahu pun tak sanggup hadir ;_;

  17. numpang mampir mas….
    brrpp…cino ireng??huahaha..baru kali ni denger ada orang keturunan china kulitnya item..hihihi..peace mas!
    bener tuh susah bener rubah citra negeri kita ya..kalo orang2 asing yang aku temui pasti yang ditanyakan pertama adalah “eh, indonesia tuh kan sering gempa ya??” trus pertanyaan kedua pasti “disana juga banyak teroris kan? ihh takut kesana ntar kena bom deh, ngerii..”
    Hmmm..padahal negeri kita kan ga sengeri itu ya..biasa aja kali, di negara2 lain juga banyak masalah terorisme dan gempa bumi. tapi kok citra indo dah jelek banget ya…jadi prihatin.

    the last..males banget deh sama orang2 yang ga akuin jati dirinya sebagai warga indonesia, macam malin kundang aja, ga tau terima kasih ma ibu sendiri..fiuhh capeee dee

    >sori mas..komene dowo..mumpung iso ngenet ki lagi nebeng di tempat temen..hoho<< have a nice weekend..

      • Dewa Bantal
      • April 5th, 2010 5:42pm

      “Polisinya suka ngejar cewek cewek” — kata temenku di Malaysia (Cina). ^^;

      Btw Cino ireng bukan maksudnya keturunan Cina berkulit hitam, tapi ejekan buat orang pribumi yang kulitnya gelap, dipanggil Cino Ireng LOL.

  18. ini lho mas masalahnya kalo belajar Islam cuma separo-separo. jaman Nabi Muhammad dulu ndak ada ceritanya menghalalkan darah dan harta manusia lain atas nama agama. banyak cerita tentang hal ini.

    misalnya waktu cerita penaklukan Mekah yang waktu itu masih dihuni para penyembah berhala dan sering mengancam untuk menyerang MAdinah sebagai basis Islam, Nabi menginstruksikan kepada pasukannya untuk ndak mbunuh wanita dan anak-anak, juga tidak menyerang orang yang berdiam diri di rumah, karena yang tinggal di rumah berarti ndak melawan.

    waktu ada rombongan pendeta kristen berkunjung ke rumah beliau di Madinah juga diterima dengan baik, saat tiba waktu beribadah Nabi juga mempersilakan, bahkan menyediakan tempat.

    waktu ada pengeboman gereja di mojokerto, salah satu korbannya adalah anggota Banser NU yang atas inisiatif para ulama setempat ikut mengamankan tempat tersebut, muslim tulen boss.

      • Dewa Bantal
      • April 5th, 2010 5:48pm

      Bener Mas!

      Banyak yang bilang aku bisa nulis begini soalnya aku gak mengalami huru-hara. Ya aku bersyukur gak sampe jadi korban pembunuhan atau hajaran masa, tapi tetap aja dulu Toko, Rumah dan Swalayan di Pecinan milik keluarga di Jepara dijarah dan dibakar (sebagian).

      Yang mati-matian mengamankan situasi juga pihak setempat kan? Kepolisian setempat dan jaringan radio ORARI kalo ada yang inget :) — yang kebanyakan juga adalah penduduk pribumi.

      Saat semua orang panik, waktu itu aku masih SMP, aku malah melihat sesuatu yang keren, walaupun tragis dan maut mengancam. Keren, melihat mereka yang mau membela kami.

  19. aku mulai menyadari apa itu artinya Indonesia adalah ketika aku menikah dengan orang cina (aku jawa), yang lahir di luar jawa. plus ketika aku mulai tinggal di jakarta. bagiku yg menarik dr Indonesia adalah banyaknya suku di dalamnya, dan mnrtku ini indah sekali. tapi kok aku nggak yakin banyak orang Indonesia yg menyadari hal ini ya?

      • Dewa Bantal
      • April 6th, 2010 8:34pm

      Malah banyak yang komplen gara2 kebanyakan pendatang dari luar pulau huhuhu… Kasihan si Garuda menangis.

    • aditya
    • December 9th, 2010 10:11am

    thanks for writing this…just notice your blog

    • treew
    • March 14th, 2011 9:19am

    Indonesia tanah pusaka, tapi sekarang banyak petaka… hi..hii. hii
    sekarang banyak yang mengatas namakan agama untuk kepentingan politik …. biar kelihatan hebat,… biar kelihatan berkuasa,…. biar kelihatan berpengaruh, fanatisme dan sebau dengan itu.. padahal mereka juga sering memplototi gambar-gambar ehm.. kalau tidak ada yang liat ha…ha… haaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

      • Dewa Bantal
      • April 8th, 2011 11:53pm

      Negara adalah rakyat, kalau dari rakyatnya ngga sadar buat membentuk negara lebih baik, ya percuma :) dan yang namanya rakyat juga dimulai dari seorang kita.