Sensor T*rhadap Pub**k M*nyeba*kan

Semalam aku mbantal 5 jam 55 menit.

kick ass

Beberapa minggu yang lalu aku singgah ke bioskop setempat untuk nonton film Kick Ass yang kocak gila itu. Bukan cerita dari filmnya yang ingin kutulis, tapi masalah tiketnya.

Kelihatan sensor diatas itu? Penyensoran kata “ASS” nggak hanya di tiketnya saja, tetapi juga di papan LCD dimana judul-judul film lainnya yang sedang diputar ikut bertengger.

KICK A**

Guru kuliahku yang juga kebetulan menonton film ini pun berkata demikian:

Really people? Your children are not that innocent.:)


Sebenarnya sudah lama aku sedikit merasa risih dengan berbagai macam upaya penyensoran untuk semua kata-kata yang dianggap offensive baik dalam tulisan maupun percakapan.

Kalau dalam tulisan, ya contohnya seperti di atas itu. Di kasih bintang-bintang. Entah kenapa mereka dahulu memilih bintang sebagai lambang sensor. Kok nggak tanda seru, tanda tanya, titik, silang ataupun pagar (#).

Kalau dalam percakapan, ya contohnya penimpalan dengan bunyi kentut, piring pecah, efek suara beep, teet, toettt, cring, tut, atau tokoh utamanya dibisukan sementara ketika sedang bermaki-ria.

Perlukah? Efisienkah?

Menurutku, percuma! Justru dengan adanya penyensoran itu, anak-anak kecil malah semakin dipaksakan untuk mengolah imajinasi mereka, dan menemukan jawaban demi keingin-tahuan mereka ketika dihadapkan dengan tulisan kotor yang dihiasi dengan bintang-bintang tak berdosa itu tadi.

Contohnya: KAMP**T ITU ORANG G**A IT** B*** K****L T** **** * * * KEBO!

Kalo aku… waktu kecil… ngeliat tulisan begini… yang ada justru aku bakal tunjukkan ke teman-temanku dan berdiskusi kira-kira kata apa yang tersembunyi dibalik deretan bintang-bintang tersebut.

Sama halnya di dalam percakapan di layar kaca. Setiap kali ada terdengar [BEEP], langsung deh otak belakang ini menjerit “Apa itu tadi??? Ngomong apa dia???”

Satu hal lagi, mereka yang biasanya di layar kaca, yang sok alim… atau sok jaim, dengan alasan gak mau misuh dibalik dandanan menornya itu… terutama di TV Show USA, tentang moral ini lah, moral itu lah, disini ada istilah “The F word” yang merujuk ke kata “Fuck” dan “The N word” yang merujuk ke kata “Nigger

Itu juga salah satu bentuk kamuflase penyensoran yang bikin aku jengkel, kenapa?

Soalnya saat mereka bilang “You know… The F word…” itu seolah olah mereka membuatku mengatakan “fuck” di dalam kepalaku. Mereka… membuatku mengatakannya secara lugas, walau hanya di dalam otak.

Menyebalkan….

Lempar kata sembunyi mulut? Bukankah jauh lebih baik kalau dia secara gamblang langsung aja ngomong “fuck” dan mempertanggung jawabkan perkataanya sendiri? Bukan memaksa kita mengatakannya walau hanya sugestif :lol:

Ya itu sih pandangan pribadiku saja. Aku menikmati komedi-komedi yang melibatkan sedikit banyak pisuhan-pisuhan umum, tetapi bukan berati aku adalah orang yang suka menyisipkan… the F word ke dalam setiap perkataanku sehari hari. Aku malah tidak suka bercakap dengan orang yang terlalu sering nge-eF di setiap kalimatnya, apalagi terhadap orang yang sedikit-sedikit misuh.

Cuaca panas sedikit, misuh... ngantuk sedikit, misuh… harga bensin naik Rp. 15,-  misuh... kena headshot di game COD, misuh… gak ada ide buat ngeblog? misuh juga...

Sama seperti seks, pengajaran tentang bahasa kotor yang kurang sopan itu menurutku juga perlu dijelaskan dengan terbuka terhadap anak-anak, bukan ditutup-tutupi dan dilarang-larang, karena mereka bertumbuh dengan pengertian, bukan dengan tali kekang.

    • zee
    • May 6th, 2010 11:42pm

    Kadang2 kita ini terlalu berlebihan. Itu jelas ga penting. Kenapa dengan ASS. Justru saat anak2 menggunakan kata tersebut, kita yang seharusnya mengarahkan penggunaannya dgn benar. Kalo di-bintang2in nanti malah penasaran, itu apa yaa…. ga beres sudah.

      • Dewa Bantal
      • May 7th, 2010 7:52am

      Mending gak disensor semua, haha, coba jadinya K*** A*** >.<

    • Riri Yamachan
    • May 7th, 2010 12:05am

    well…. sensor memang bikin kita tergelitik untuk mengetahui kata kotor apa yang barusan terlontar. sama seperti rahasia. disensor apa nggak juga gak ngaruh. tapi ya mungkin sebagai basa-basi aja… makanya tetep harus ada bimbingan dari yang lebih tua, baik, dan cerdas untuk mengawasi para anak-anak yang sebaiknya tidak belajar kata-kata itu….

    siiiplah… Dewa Bantal dah kayak bapak-bapak ya…. :D

      • Dewa Bantal
      • May 7th, 2010 7:54am

      Mereka pasti belajar, dan pasti hapal dengan semua pisuhan yang ada di dunia ini… kelak. Gak mungkin lah mereka gak belajar, yang penting itu pemahaman kalau tidak perlu jadi orang yang mengumbar mulutnya. Orang kalau sudah jengkel setengah mati juga pasti misuh kok… walaupun sekedar “ASEM!” :)

  1. lah ini dia, misuh-misuh di blog sendiri.

    KAMP**T ITU ORANG G**A IT** B*** K****L T** **** * * * KEBO!

    *kira-kira apa ya??? swerrr gak mudeng aku mah… heheheheheh

    lucu juga postingannya, gw setuju dengan istilah lempar kata sembunyi mulut. gak bertaanggung jawab bgt, kalo ngomong ya langsung nyablak aja, nggak usah nyuruh orang nebak-nebak.yah..tanpa sadar jadinya kita menerka-nerka kata-kata yg disensor itu.
    jadi inget kejadian pas rapat pansus centuri, anggota dewan nyebutin kata-kata kebon binatang tanpa di sensor.,

      • Dewa Bantal
      • May 7th, 2010 7:58am

      Kata kebon binatang apaan? Setauku anjing bukan penghuni kebon binatang lho. Sedangkan kambing, kerbau, cendrawasih, burung beo, gajah, jerapah, bukanlah binatang “kotor” yang layak dipusingkan xD. Mungkin Monyet… sedikit lebih :lol:

    • bukan binatang yg kayak lo sebutin…
      istilah yg sering disebutin orang ajah…
      udah…ah…binun gw.

        • Dewa Bantal
        • May 7th, 2010 3:00pm

        Ya sudah, aku juga nggak enak untuk memaksamu mengatakannya :lol:

  2. wei, masalahnya kalo ndak ada sensor Mas, makin banyak pengangguran di dunia, nah itu orang-orang yang kerja di Badan Penyensoran pada ngapain dunk? haha, hore lolos sensor!!

      • Dewa Bantal
      • May 7th, 2010 7:59am

      hahaha iya ya. Dan kalo makin banyak yang disensor, yang suka berdemo juga semakin banyak aktifitas :lol:

  3. saya setuju dengan anda, lebih baik dibuat lugas saja tapi tentunya dengan sewajarnya, leluasa misuh bukan berarti sedikit-sedikit harus misuh kan..

      • Dewa Bantal
      • May 7th, 2010 8:01am

      Iya, harus inget juga situasinya gimana ya tho. Kalo didepan orang tua ya jangan misuh, soalnya 100% pasti mereka marah :) — apalagi di tempat ibadah, wahiahahaha.

    • DV
    • May 7th, 2010 3:34am

    One word, smoga nggak masuk spam,… kalaupun masuk tolong dikeluarkan: FUCK! hahahaha

      • Dewa Bantal
      • May 7th, 2010 8:01am

      SHIT

    • DV
    • May 7th, 2010 3:35am

    Oh ternyata nggak masuk spam, Good!
    Aku setuju denganmu… kalau mau misuh jangan sembunyi lidah!
    Ngomong apa adanya dan pertanggung jawabkan apa adanya…
    Masking dengan cara penulisan karakter asterik tak kan mengurangi sedikitpun dosa kalau memang ngomong jorok adalah dosa :)
    Period. Fuck! :) )

      • Dewa Bantal
      • May 7th, 2010 8:02am

      Aku juga heran, kok gak masuk spam yah? xD Akimset kayaknya ramah banget di blog ini. HAhahaha, ngomong jorok itu dosa gak si sebetulnya, aku sendiri nggak pernah berpikir ke arah situ xD.

  4. yang jelas kalo di tipi lokal sini itu ngganggu saya dalam menikmati adegan pilem mas, lha piye wong banyak saat-saat mulutnya gerak tapi ndak ada suaranya. nyebeli!

      • Dewa Bantal
      • May 7th, 2010 8:05am

      Haha, seperti nonton DVD rusak ya… suarane ilang-ilang. Heran, kalau memang keberatan dengan sebuah film yang terlalu banyak pisuhan-nya, kenapa tetep maksa di tayangkan juga? Apalagi kalau ditayangkan ditengah malam, sudah jelas2 ditujukan buat umur dewasa. Mending nonton Doraemon ya tho?

  5. Film Kick Air? :lol:

    Sensoran itu malah bikin penasaran dan kalo nyari sendiri kemungkinan besar nemu pisuhan-pisuhan lain :p

      • Dewa Bantal
      • May 7th, 2010 8:05am

      LOL Kick Air. bukan… Kick Asu! Ha hahahahaha.

  6. Hehe, semakin ditutup-tutupi semakin penasaran ya? ;p

      • Dewa Bantal
      • May 7th, 2010 2:58pm

      begitulah :)

  7. huahahaha baru tau gua kalo sampe segitunya disensor ya. judulnya doang aja pake ** ya… :P
    gua nontonnya di kantor sih, kalo di kantor sih posternya ada dimana2 dan gak disensor. hahaha.

      • Dewa Bantal
      • May 7th, 2010 2:59pm

      Posternya sih kagak disensor pak. Tulisan2 diloker sama di layar dinding nya ituh yang disensor :D

  8. Huahahaha… perihal misuh, emang susah sekali untuk tidak mengumpat waktu rasa kesal datang. Tapi saya udah lama sekali mencoba untuk ga misuh dalma hal kecil. :D Saya cuman kelepasan misuh untuk hal2 besar, seperti jari kelingking kejedot pinggiran pintu ato kepala kejedot pinggiran pintu mobil sedan waktu mau masuk. LOL

      • Dewa Bantal
      • May 9th, 2010 10:31pm

      Waduh, kalo itu si pasti misuh dah… sakittttt lol.

  9. hmm bener juga yahh lempar kata sembunyi di mulut, tapi kenapa juga yah kata ass jaru di sensor?? dan memang bener juga c klo ada penyensoran kata atau percakapan di tv atau film bikin seribu pertanyaan di otak, apa yah? ckckck..

      • Dewa Bantal
      • May 9th, 2010 10:32pm

      Ya kalau disimpulkan, benar seperti itu :)

  10. hahhaha
    pokoknya gue setuju dengan kamu
    bayangin deh nama gue MIYASHITA
    masak kalo tulis di shoutbox jadi MIYA****A
    edaaaaaaaaaaaaaaaaaan

    EM

      • Dewa Bantal
      • May 9th, 2010 10:33pm

      LOL, itu susahnya apalagi kalau di dalam game online RPG. Semua kata2 di sensor, jadi kalau ngomong bahasa indonesia, kena sensor gila2 an berhubung nyebut pisuhan inggris secara gak langsung :) )

  11. Karena nama filmnya disensor kaya gitu, kayaknya jadi memberikan kesan negatif deh sama isi filmnya, padahal kan filmnya kocak be-ge-te :lol:

      • Dewa Bantal
      • May 9th, 2010 10:33pm

      IYA BENER! HAHAHAHA.

  12. kalau kmrin
    aku nonton
    menjemput miyabi
    gan
    heheh

      • Dewa Bantal
      • May 9th, 2010 10:33pm

      Bukannya “Menculik” ?

  13. he..he… mungkin maksud nya “jaim” diantara kebiasaan misuh. :lol: malah di Surabaya ada group yang sudah terang2an menjadikan “jancok sebagai misuh nasional” dengan alasan sebelum di klaim sebagai misuh asli malaysia. (^_^) aya-aya ae ?!?

      • Dewa Bantal
      • May 9th, 2010 10:34pm

      Hahaha… bener ya? Keren. Kehabisan sumber daya alam dan budaya buat dicuri, sekarang pisuhan sekalian? XD — Kakekane…

  14. PakOsu mampir malam-malam nih. salam

      • Dewa Bantal
      • May 9th, 2010 10:35pm

      Salam, jaga kapling yang bener ya :)

  15. Kata-kata pisuhan gw makin sering keluar ada hubungannya dengan game. Setiap kalah, pasti misuh. Kebiasaan itu suka kebawa ke alam nyata, kadang malu juga kalo ketauan kotor ngomongnya.

    Hahaha, jadi curhat.

      • Dewa Bantal
      • May 12th, 2010 7:05pm

      Yah nggak papa, jarang-jarang lihat cewek misuh-misuh xD — di sini sih sering, kalo di Indo… sumpah jarang banget.

  16. emangnya “ass” tuh kasar ya?

    apakah “pantat” kasar?

    ups.

      • Dewa Bantal
      • May 13th, 2010 11:16pm

      Ass itu lobangnya pantat, hahaha. Ya kalo Indo nya kayak bilang “Silit!” :lol:

  17. “Contohnya: KAMP**T ITU ORANG G**A IT** B*** K****L T** **** * * * KEBO!”

    Sumpah, aku gak ngerti bintang-bintang itu mesti diisi huruf apa? Tapi tak usah dijabarkan, lebih baik gak tau aja, deh :D

    Kalo aku misuh paling banter ngomong : Dasar, bebek laut!!

      • Dewa Bantal
      • May 14th, 2010 2:23pm

      Ha? Dapet dari mana tuh BEBEK LAUT!! :lol: ga pernah denger.

    • Ya itulah diriku. Kadang pengen misuh2 tapi gak tega mo ngomong jelek, ya jadinya pake bebek laut aja :D

        • Dewa Bantal
        • May 18th, 2010 8:09pm

        Pilihan yang bagus, lucu dan unik,…

  1. No trackbacks yet.