Lebih Baik Tertawa Daripada Khawatir

Semalam aku mbantal 8 jam 30 menit.

Hanya sekedar keingintahuan yang gak penting, aku bertanya kepada Sang Google tentang berapa banyak rata-rata jumlah kematian setiap hari di muka bumi ini.

Pasti banyak sekali angka yang mungkin muncul di pikiran kita, tetapi statistik menulis bahwa rata-rata 150,000 orang mampus setiap harinya, yang artinya hampir 2 orang menghembuskan nafas terakhirnya setiap detik :) — dan berarti 20 orang baru saja menuju akhirat di suatu tempat di bumi, saat kamu selesai membaca kalimat ini.

Ajaib ya? :D

Pernahkah juga kamu berpikir bahwa di saat ini, detik ini, di atap suatu gedung di belahan bumi yang lain, ada orang yang mempersiapkan sebuah tali untuk menggantung lehernya, memasukan moncong pistol kedalam mulutnya, atau malah ada yang sedang melayang di udara siap mendarat ke atap sebuah mobil milik tetangga.

Itu baru yang bunuh diri. Belum lagi ketika kita juga membayangkan sebuah pembunuhan, pemerkosaan, penipuan, pembakaran, huru-hara, perampokan, kecelakaan, dan berbagai macam tindak kriminal yang setiap detik berlangsung di atas bumi tempat kita berpijak.

Mengerikan? Mengkhawatirkan?

Kemudian aku berandai-andai lagi. Informasi dari Wiki mengatakan kalau di dunia ini ada mungkin sekitar 30,000 stasiun televisi. Misalkan ya, aku punya 30,000 buah televisi, dan bisa menonton semua siaran dari seluruh penjuru bumi. Kira-kira apa yang akan aku lihat 90% dari semua itu?

World, nature, human and morale destruction.

Hanya 2 kemungkinan yang akan terjadi padaku kalau aku bisa menonton itu semua dalam waktu yang sama. Tertawa penuh gairah, atau jadi gila. Sudah merupakan sifat dasar manusia untuk menikmati sebuah kesengsaraan. Hanya saja jarang sekali ada orang yang benar-benar mau mengakuinya :)

Contohnya, kamu mendengar ada pom bensin yang meledak, dan bertanya “Eh, di mana? di mana??” — kemudian temanmu menjawab: “Di Afghanistan.”

“Oh…. di sana” adalah respon selanjutnya yang paling umum diberikan.

Coba kalau temanmu menjawab “Di jalan Dewa, gang Bantal tuh! 3 km dari sini..”

Pasti kebanyakan dari kita langsung ambil kamera, keluar kamar dan menuju ke TKP secepatnya, untuk apa? Melihat sebuah kehancuran yang terjadi. Ya ya, mungkin ada yang turut iba dan berbela-sungkawa, tetapi perasaan “Wow…. berkeping keping man…” pasti tersirat disetiap lubuk hati para penonton. Semakin besar area ledakannya, semakin puaslah penonton.

Yak, stop!

Sebelum aku mbablas kemana-mana dan semakin sinis lagi :)

Kenapa aku menulis ini? Karena dunia semakin rusak, dan herannya ada buanyaaak orang yang juga turut semakin rusak. Bukan maksudnya menjadi seorang kriminil, tetapi menjadi penuh dengan kekhawatiran, panik, paranoid, curiga, egois, trauma, dan kehilangan semua kedamaian hati.

Khawatir dengan ekonomi, khawatir dengan politik, korupsi, bencana alam, rampok, bom, dan lain-lain adalah bentuk kekhawatiran yang gak perlu.

Gak perlu deh ikut-ikutan pusing mikirin resesi negara, gak perlu ikutan marah mikirin perselingkuhan seorang artis, gak perlu ikutan nangis dan iba yang berlebihan mendengar ada seorang anak dibunuh bapaknya, karena semua kekhawatiran dan kesedihanmu itu nggak membantu atau membuat dunia ini menjadi lebih baik sedikitpun. Lebih baik khawatirkan dirimu sendiri terlebih dahulu dan berbenah sebelum ikut campur untuk mencoba mengkhawatirkan dunia.

Kemudian, daripada pusing mikirin angka kematian dan khawatir olehnya, aku iseng-iseng berpikir sesuatu yang lain lagi,

Pernah gak kita berpikir dan merenung, dari seluruh dokter yang hidup di dunia ini, kalau di urutkan sesuai ranking yah, pasti ada seorang dokter paling bodoh dan paling buruk di posisi terbawah. Dan pernahkah kamu kemudian berpikir kalau besok pagi… ada seseorang yang sudah bikin appointment dengan dokter ini untuk berobat?

Ya, lebih baik aku memikirkan hal-hal seperti itu dan tertawa atas nasibnya. Kejam? Biarin, wong ndak kenal :D

    • DV
    • April 11th, 2010 8:53pm

    Ini tulisan wong sing lagi stress :) )

      • Dewa Bantal
      • April 11th, 2010 8:57pm

      Haha, aku gak stress ik tapi… Lagi kurang kerjaan, mungkin. Tapi asik aja mikirin hal-hal begituan hehe. Saat ini ada orang yang barusan mati waktu menulis komen di blog seseorang di suatu tempat di muka bumi ini >) *ho ho ho…*

    • Riri Yamachan
    • April 12th, 2010 4:01am

    kalo mikirin apa yang dilakukan orang2 yang kita gak kenal, minimal artis deh (tau mukanya), rasanya jadi kecil…. benar2 a little part of this world….. lama2 jadi weirdo sendiri.

      • Dewa Bantal
      • April 12th, 2010 9:21pm

      Hahaha jadi weirdo sendiri? :)

  1. Ngga usa streslah, ngga usa ngurusin orang lain, yang penting dari diri sendiri :)

      • Dewa Bantal
      • April 12th, 2010 9:21pm

      Iya Dok, diriku tidak stress hehe.

  2. hahaha, saya akhirnya ingin tertawa gara-gara tulisan ini..

    kalau di Bali ada istilah UICG (urus iban ci gen) yang artinya kurang lebih sama dengan “urus dirimu sendiri aja” hehe

      • Dewa Bantal
      • April 12th, 2010 9:22pm

      Iya, ga usah repot2 — apalagi empati berlebihan @_@ doesn’t help anyone.

  3. we…tampilan baru nih!! aq ra komen artikele, cuma komen mbantale tumben kog 8 jam?

      • Dewa Bantal
      • April 12th, 2010 9:23pm

      Iyo baru… kamu juga baru. 8 jam, iya, pas ya.. hehehe.

  4. saya doakan yang nulis postingan ini besok akan jadi bahan tertawaan orang di seluruh dunia

      • Dewa Bantal
      • April 13th, 2010 5:22pm

      Amin deh. Satu dunia kalo mampir kesini aku bisa mati bahagia huahaha.

  5. saya agak susah mencerna tulisan kelas tinggi macem gini. tapi yang saya tau memang ada orang yang suka menikmati musibah, karena tragedi buat orang lain adalah komedi bagi sebagian lainnya. misalnya kalo ada kecelakaan, banyak orang berhenti bukan dengan niat mau nolong tapi sekedar pengen nonton.

    dan sampeyan bener juga, banyak orang mumet mikir cara menyelamatkan dunia tapi ndak pernah mumet mikir “menyelamatkan” diri sendiri dulu. padahal konon katanya ‘though i cannot change the world we’re living in, i can always change myself -wake up the mountain, helloween – 1996-

      • Dewa Bantal
      • April 13th, 2010 5:23pm

      Quote nya bagus :) — btw tulisan kelas tinggi dari Hongkong? Huahaha… wong nulis ala kadarnya kok.

  6. wekekekek nggak komen… cuma numpang nyengir…

    boleh kan :D

      • Dewa Bantal
      • April 13th, 2010 5:23pm

      sangat boleh kok, cengiran diterima :D

  7. untungnya itu di seluruh dunia, jadi nggak kelihatan pada skala lokal. persentasenya berapa sih?

      • Dewa Bantal
      • April 15th, 2010 4:22am

      tak tahu dong, aku bukan pakarnya hehe.

  8. hihihingerti sih apa maunya kamu dengan nulis gini
    sama aja dengan temen aku yang mencak-mencak karena orang-orang demo soal palestina, tapi CUEK dengan masalah dalam negeri.
    well tiap org punya kebebasan untuk mengkhawatirkan orang lain, baik yang sesama AGAMA, NEGARA, RT/RW, atau juga TIDAK mengkhawatirkannya.
    Kalau aku sih biasanya cuma pusingin orang yang berada di sekeliling aku, termasuk blogger yang sudah akrab. Tapi itupun jumlahnya cuma banyak dan membuat PUSING!
    so…tertawalah kita sebelum ketawa aja ngga bisa

    EM

      • Dewa Bantal
      • April 17th, 2010 10:12am

      Tertawa sebelum tertawa dilarang. Jadi inget guyonan orde baru. Tertawalah sebelum tertawa diwajibkan lapor 24 jam sebelumnya.

  9. Sudah merupakan sifat dasar manusia untuk menikmati sebuah kesengsaraan

    Ini prinsip media banget: “Bad News is good News” :lol:

    Karena dengan kabar-kabar buruk itulah media jadi hidup, selalu ada materi untuk diberitakan.

      • Dewa Bantal
      • April 18th, 2010 11:07am

      Iya, sementara kalau keluarga kita yang gak ada kabar, pedomannya “no news is good news” hehehe.

    • Tazz
    • April 19th, 2010 8:50pm

    jalan pikiranmu sungguh unik deh…
    sungguh lho…hahaha :D :D :D

      • Dewa Bantal
      • April 20th, 2010 1:02am

      Hihihi… sedikit benefit jadi orang rada sarap :)

  1. No trackbacks yet.