Kedua Bukanlah Tak Sebaik Pertama
- April 20th, 2010 | 802 views
- Posted in Coretan
- Write comment
Untuk Yusnan,
Dari kecil kita sudah selalu diajarkan untuk menjadi nomer satu. Terutama buat keluarga-keluarga yang mami-papinya orang bergengsi dan terpandang, anak-anak jadi korban deh.
“Karena anak adalah buah keluarga” begitu katanya.
Semangat ’45 itu terus berkobar sampai akhirnya padam ketika sadar kalau tidak semua anak dilahirkan jenius. Memang ada juga yang memang bawaan otaknya encer, dan tekun belajar hingga bisa jadi juara 1 terus sepanjang karir pendidikannya, tapi ada juga yang tetap stuck di nomer 2, 3, 4 dan seterusnya.
Ada orang yang terobsesi selalu menjadi yang pertama, hingga langsung gila begitu jatuh di peringkat ke 2. Contohnya… banyak. Pasti kamu tahu 1-2 orang yang demikian
Ada juga yang gak peduli dengan ranking, “yang penting berusaha” — dan kadang hanya terdengar sebagai alibi orang pasrah… Contohnya… tambah banyak *angkat tangan*
Ada juga yang lebih suka menjadi yang kedua karena beban tanggung jawab jadi sedikit lebih ringan. Contohnya… para wakil. Wakil presiden, wakil ketua kelas, wakil kepala sekolah, dll.
Tetapi ada juga orang yang sudah diharuskan menjadi yang kedua.
Contohnya… seorang adik.
Kira-kira berapa banyak diskriminasi terhadap seorang adik itu terjadi? Hehe, seperti yang dulu aku pernah bahas disini.
Kalau masalah prestasi, mungkin ada banyak adik-adik yang lebih pintar dari kakaknya. Tetapi dimata sosial, berapa sering kita mendengar… “Budi? … Oh adiknya Budo? Tau!”
Apakah lalu menjadi nomor dua itu tak sebaik menjadi yang pertama?

Di kiri adalah Yusnan dengan kekasihnya Mega.
Seseorang yang nyaris selalu terlupakan di ingatanku, yang memang karena aku nggak terlalu dekat dengan keluarganya.
Seumur hidup paling hanya bertemu dan bercakap beberapa kali dengannya di kota Jepara. Yo’i, berasal dari satu kampung
— waktu kami masih imut-imutnya, dan terakhir kali ngobrol, lewat Facebook waktu dia tiba-tiba nongol di friend-suggestion ku.
Disinilah aku menjadi sosok sosial yang memandang dia sebagai yang kedua tadi — “Oh, adiknya si Farid.” langsung terbesit di pikiranku.
Tapi tau kan? kalau di panggung kehidupan yang dia dan kita jalani, masing-masing kita adalah pemeran utamanya, nggak peduli kita anak nomor berapa. Karena yang paling penting bukanlah score, ranking dan rating yang mereka tempelkan di wajah kita, melainkan seperti apa buah-buah dan warna-warna yang bisa mereka lihat dari kehidupan kita.
Sosok si Yusnan walau di mataku selalu di bawah naungan kakaknya, tetapi pasti adalah sosok pertama di mata para sahabatnya, gurunya, boss-nya, client-nya dan buah hatinya.
“Sudah kerja toh dia? Kupikir masih kuliah
— sudah gede rupanya.” responku kepada kakaknya di chattingan tadi. Si Farid adalah temanku dari Jepara juga, sekaligus teman Gereja dan SMA.
Tentu saja aku sudah tidak bisa ngobrol lagi dengan si Yusnan, karena dia sudah berpulang ke tempatnya Tuhan, April 09, 2010 kemarin.
Berita yang cukup mengejutkan waktu aku mendengarnya saat itu. Aku bisa dibilang sama sekali nggak dekat dengannya, tetapi entah darimana tiba-tiba perasaan kehilanganku yang besarnya nggak wajar bikin aku bingung sendiri. Tetapi beberapa hari setelahnya, membaca pesan-pesan dari teman-temannya di Facebook, aku melihat banyak sekali orang yang benar-benar berduka karena merindukan dia, dan juga bersuka cita karena mereka pernah mengenal dia.
Kemudian aku tersadar, kalau buah dan warna yang Yusnan sempat perlihatkan kepadaku melalui pertemuan jaman dulu yang secuil itu, aku melihat keramahan, ketulusan, kehalusan dan kebaikan hati dari dalam dirinya. Yang terakhir itu, Orang Baik Hati… jarang sekali ditemui ya tho? Sudah gitu otaknya juga encer
— Electric Engineer.
Secara nyata, dia telah menjadi yang pertama dan yang terbaik di kehidupan yang dia jalani. Berlaku juga untuk aku… dan kamu, sudahkah kita berbuah?
Jadi apakah itu penyebab perasaan sentimentilku, atau hanya disebabkan oleh perasaan kekeluargaan karena berasal dari kampung desa yang sama itu?
Atau mungkin karena dua-duanya? But anyway, selamat jalan Yusnan
Foto diatas diambil oleh si Farid Widjaja, kakaknya.

turut berduka cita, semoga yusnan ditempatkan di surga oleh tuhan.amin
pertama kali baca aku fikir, ahai yusnan ulang tahun nigh.
setiap orang pasti memberikan warna tersendiri bagi orang lain atau berbuah menurut istilah kamu.
ahhh aku suka sekali baca tulisan ini. Aku pernah berpikir bagaimana menjadi orang kedua/adik, karena aku sendiri anak pertama.
tapi…ikut merasa sedih karena Yusnan sudah tiada. Turut berduka cita.
Pasti dia orang yang baik, karena sampai kamu pun bisa menuangkan dalam tulisan apik ini. Aku suka sekali tulisan ini.Dalam….
EM
turut berduka, semoga Yusnan menikmati kesempurnaannya di sana..
Turut berduka cita atas berpulangnya Yusnan. Semoga yang bersangkutan ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.
Tak dapat dipungkiri, titel apapun pasti pernah menempel pada seorang manusia. Entah itu pertama, kedua, yang paling pintar, atau si bandel tukang godain cewek… Tapi memang yg terbaik adalah mengenal dan mengetahui sendiri titel apa dari seseorang sehingga memberi warna dalam kehidupan kita.
Good post, Tal
Keren nih posting. Di keluarga saya, adik saya yang notabene anak kedua malah menjadi idola keluarga bukan saya yang anak pertama
.
Sedih juga dengar kabar orang hebat dan baik meninggalkan kita. Semoga Yunan sekarang damai dalam pangkuan-Nya.
BTW, semalam mbantal berapa jam nih
setelah saya baca tulisanny..menurut saya anda termasuk orang gak peduli dengan ranking, “yang penting berusaha”
hehehe..pendapat saya lo
duh….
jadi inget aku masih punya foto kita bersama Yusnan…..ntar coba kuscan trus kuupload d….kamu masih punya ndak to?
turut berduka cita bro…
setuju sekali kalau kita adalah pemeran utama di kehidupan ini, jadi semuanya tergantung kita mau berbuah atau tidak
Aku juga pernah ngerasain yg kayak gini, Ka. Aku posting dengan judul “Violete”. Itu, aku pasang untuk URL linkku kali ini biar kmu ga perlu ngobok2 blogku…
Selamat jalan Yusnan… biar tak dekat ada chemistry lain yang membuat rasa kehilangan atas dirinya seperti kesan baik hati, atau title positif lainnya
whew..turut berduka cita ya..
pertama kupikir ini temanmu akan married, ternyata..
so deep’
condolences ~
Turut berduka cita ya… Kalau menurutku, apakah ada title ‘Kedua’ atau tidak, Mas Yusnan tetaplah Mas Yusnan, dan karena itulah kita merasa kehilangan.
Aku cuma beda 2 tahun dengan adik laki-lakiku, dan perlakuan ortuku serba adil,sampai kesannya kami kayak anak kembar. Gak ada istilah suruh menyuruh, karena dia juga gak bakal mau disuruh
Dan walau nantinya ada yang bilang : “Oh, kamu adiknya si Riri itu ya…” biasanya ada embel-embel : “Kok lebih gede adiknya ya?” jadi kuanggap impas. Huhuhuhuhu….
dari awal tidak sedikitpun saya menyangka bahwa orang yang dalam foto itu sudah tiada..
walaupun tidak kenal dan tidak pernah berjumpa langsung, bolehlah saya menyatakan turut berduka cita..
Turut berduka cita atas kepergian Yusnan, semoga kebaikannya bisa mengantarkannya ke tempat yang baik pula disisi-Nya
anak pertama biasanya lebih wise.. lebih mampu mengendalikan emosi dan penuh perhatian kepada pihak lain. tapi anak kedua, ketiga, keempat.. bisa juga sepert anak pertama, toh masing2 orang punya kelebihan kelemahan
Turut berduka….
Indah! Cara bertuturmu sangat indah!
Sampai kepada kalimat, dia telah berpulang, sama sekali saya tak menduga kalo ceritanya bakal begitu. Tak kirain cerita bahagia.
Turut berduka ya. Dan tulisan ini jadi membuat sadar, saya selalu merasa diperlakukan jadi yang pertama seperti si Bidu terhadap adik2.
smoga yusnan diterima amal baiknya
amiennn
turut berduka ya sob
selamat jalan buat yusnan…
ngomenenin theme nya, mendingan yg kemaren. liat banner nya mang lagi nyari theme baru yah, kalo dah dapet yg bagus kasih tau juga ya gimana nyeting nya.
turut berduka cita atas berpulangnya Yusnan,,semoga tenang dalam keabadian di alam sana..amien..duh ikut sedih..hiks
dan setelah baca kisah di bawahnya, saya yang tadinya ingin berkomentarpun hanya mampu mengatakan: Turut berdukacita
Kadang-kadang urutan ga selalu jadi penentu kualitas seseorang..
So enjoy aja..
Salam kenal..