Garis Pembatas Yang Mulai Melengkung
- February 24th, 2010 | 188 views
- Posted in Coretan
- Write comment
Peraturan itu dibuat untuk ditaati, dan bukan untuk dilanggar seperti kata kebanyakan anak-anak muda yang bawel
Berusaha untuk membenarkan idealisme mereka untuk selalu melanggar peraturan, kata mereka: “kalau semua ngikutin peraturan, buat apa ada polisi?” — Ya aku bilang, ada polisi soalnya ada orang orang semacam kamu itu yang nggak bisa diatur hahaha. Kemudian muncul alasan yang menghambat kreatifitas lah, kebebasan lah, pandangan global lah, ini itu. Namanya juga manusia.
Ngomong-ngomong tentang manusia ini, kalau kita bandingkan jaman dulu dan sekarang, pastilah kita sadar berapa banyaknya batasan moral, budaya dan gaya hidup yang jauuuuh telah berubah. Ambil contohnya yuk…
Waktu SD, poster bioskop yang gambar ceweknya pake bikini atau kelihatan belahan dadanya pasti disensor habis dengan garis hitam dan tebaaal sampe kayak pake handuk
— Jaman sekarang? Asal ngga kelihatan putingnya boleh lah, gak perlu dihitam-hitamkan.
“Ih mesum…” — ya maap. OK, waktu SD juga adegan ciuman bibir ditelevisi pasti diganggu si Hiro Nakamura yang tiba-tiba langsung meloncat ke adegan selanjutnya, atau kalo nggak tiba-tiba kita dipaksa untuk menikmati keindahan bunga mawar, melati dan ayunan pohon kelapa ditepi laut…. Jaman sekarang? Mau sampe kepala ceweknya dilahap sama si cowok juga ga disensor (acara larut malam ya?).
Waktu pacaran semasa SMP, jangankan ciuman, gandengan aja masih malu-malu apalagi bergoncengan sepeda kayuh berdua sepulang sekolah. Jaman sekarang? Naik motor, helm cakil, peluk erat-erat, ngueengggg!
Kemudian berbagai alasan dari kaum sekuler dan hedonis membanjiri revolusi gaya hidup Indonesia yang mulai berbaur dengan budaya barat, timur, utara dan selatan. Mencari alasan untuk mendukung gaya hidup yang berkembang (katanya), meliputi: Homoseksualitas dan pernikahan mereka, kaum transexual, hakikat keperawanan, pemakaian bikini, perceraian, hidup bersama – sex – hamil – sebelum menikah, fashion ala punk - Gothic - tattoo, klub dewasa (striptease), penggunaan narkoba, dan banyak lagi.
- “Ohh, gpp lah cuman cium-cium aja kok. Memang dosa kalo nyium pacarku?”
- “Perawan atau nggak kan yang penting komitmen mereka sekarang menuju masa depan?”
- “Kalau memang sudah sama-sama siap, wajar lah kalau mereka punya anak.”
- “Hargailah keputusan cinta mereka, yang bebas mencintai (si Tono dan Toni).
- “Dia itu seorang wanita yang dilahirkan ditubuh pria. Dia hanya kembali ke panggilannya…”
- “MASAK BERENANG PAKE SARUNG SIH PAK?”
- “Ape lu?, gw cat rambut punya tatto dan pake tindik 10 biji tapi kaga nge-ganja coy!”
- “Ah nikmatnya ganja…. Hah? Kenapa ga boleh, ini kan sumber inspirasi artis2 keren Indonesia. Ngasilin lagu / lukisan / puisi / film bagus, dijual, laku, memajukan perindustrian Indonesia, baik untuk seluruh bangsa. Benar kan?”
Semua untaian kata-kata manis diatas untuk melengkungkan garis pembatas yang sudah tidak jelas lagi dimana seharusnya ditancapkan. Benarkah dengan semakin majunya teknologi, budaya dan jaman, mau tidak mau kita harus, dan diharuskan untuk menerima itu semua dengan pikiran terbuka (katanya) dan pengertian?
Memang, selalu ada pemulihan setelah kehancuran kalau dicari; Tetapi bukan berarti dengan alasan tersebut kita bisa terus sengaja mencoba untuk menghancurkan nurani sendiri kan?
Apakah kalau kita merasa risih melihat pasangan muda yang peluk-pelukan, cium-ciuman dipublik, atau bahkan remes-remesan bokong (eh buset!) — maka kita adalah orang jadul dan ketinggalan jaman?
Mamah-ku dulu pernah bilang begini: “Kalau yang dibilang hidup modern itu harus seperti ini, Mamah lebih baik jadi orang kuno gak papa.” –
Aku ngga bermaksud menghakimi kok. Kalau kita kembali membahas ini semua berdasarkan ajaran agama, ini terlihat seperti dari jaman ke jaman, kita selalu berusaha untuk terus menerus melakukan tawar-menawar dengan Tuhan sendiri, untuk memberikan benefit terbanyak demi kepuasan daging kita, tanpa merasa terbebani oleh rasa bersalah, atau yang lebih familiar disebut sebagai dosa
Perlu diketahui, aku bukan kaum fundamentalis ataupun agamawi apalah. Aku juga kadang menikmati guyonan saru, gak merasa terganggu dengan adegan panas di dalam suatu film, atau melihat cewek-cewek seksi yang berbikini. Walaupun demikian, aku tetap berusaha menyadarkan diriku kalau itu semua itu bukan sesuatu yang suci. Kemudian, sejauh mana seseorang ingin menjaga kesucian / kekudusan hati mereka, itulah yang membedakan setiap orang
— yang salah adalah mereka yang berusaha menghalalkan segalanya.
Jadi gimana sebaiknya? Ya semua itu terserah kita. Itu kan pacarmu sendiri… mau dicium, dirangkul, ditendang, dibanting, dikembalikan bahkan ditukar juga adalah hakmu. Hanya saja, ada baiknya kalau kita belajar lagi untuk melihat sebuah kebenaran seluruhnya secara utuh. Itu juga kalau kamu peduli — ngga mau peduli juga urusanmu… moralmu sendiri

postingan yg mayan berat ya kali ini..
kalo aku sih stuju2 aja ama postingamu..
“Itu juga kalau kamu peduli — ngga mau peduli juga urusanmu… moralmu sendiri
”
yah itu pendapatku idem ama pendapatmu….
ngurusi moral sendiri aja masi susah, ngapain ngurusin moral org laen..
Waw cepat sekali komenmu… kangen ya? huahaha. Ngga berat ah postingan ku ini. Aku berusaha membuatnya seringan mungkin
Betul, jangan sampai semut diplanet venus nampak, tetapi pantat didepan hidung tak nampak.
Menjaga moral tindakan sendiri agar suci memang sulit, tapi tak ada salahnya kalau berbagi good quote(seperti post ini) untuk org lain agar bisa suci, meskipun sering diri sendiri tidak se-suci ituh.
Walau bukan maksud hatiku bermunafik ria menyuruh sesuatu yang kita sendiri nggak bisa lakukan ;-( — Memang susah ya menjaga prinsip ditengahnya arus revolusi kehidupan manusia.
setuju deh sama pendapat mamanya..gpp lah dikatain udik or kampungan tapi yang penting masih jaga moral sesuai dengan norma2 yang berlaku.
btw, saya mau tanya.maksudnya kalimat ini apa yah?bener2 ga ngerti..
“MASAK BERENANG PAKE SARUNG SIH PAK?”
Itu… perihal pake bikini yang nyaris kayak bugil kali ya? Hahaha.
wahh…tajam…
sa;am kenal
Awas lecet… Salam kenal juga
Jadi gimana? Lha kok akhirnya malah diserahkan ke pacarnya sendiri? Ya tambah kacau dong nanti tiba2 hamil
Jadi… jangan jadi korban arus. Belajar dan berusaha mengerti kebenaran seutuhnya, sebelum main tawar menawar dengan dosa.
Kalo pacarmu hamil yang salah siapa coba? hahaha.
Ah kamu sudah menikah, diam!
“yang salah adalah mereka yang tidak baca blog ini. ehm…”
Waduh… forgery hahaha.
Saya belum bisa berkomen soal postingan ini. Dibaca saja deh…
Tetap makasih lho sudah meluangkan waktu hehehe.
Sob…dari awal aq main kesini, inilah artikel yang paling mantab buat aq, aq sangat suka artikel ini, bahkan barusan sempat tak save as.
Kamu hebat sob…., bisa menyampaikan pesan moral yang begitu agung dengan bahasa yang terkesan GAUL. dengan cara seperti ini saya yakin orang yang membaca pasti akan merasa nyaman, karena tidak merasa digurui.
Saya tunggu artikel2 model spt ini lain kali.
Wew, dari awal aku menulis blog ini juga ini komen yang paling manis yang pernah kuterima haha…
Ah berlebihan… bikin saya besar kepala nanti
Terima kasih ya… haha.
By the way, di save as mau diapain memang? :O
saya sering melanggar peraturan itu mas
Hati hati aja, jangan sampai tertangkap polisi…
berat, tapi aku mulai memahami, pilihan2 katanya. oyah, kemaren juga sempet di bahas tentang masalah ini waktu aku ikut lokakarya jurnalistik, dan masalah2 seperti ini memang selalu asyik untuk dibahas.
Hi Tary
Yang namanya blogsphere katanya si DV, haha… dia juga kepikiran ingin membahas hal yang sama sebetulnya di blog nya. Fenomena topik di antara para blogger kayaknya ada hubungan batin ya…
Tapi menurutku topik ini malah justru lumayan sensitif untuk dibahas… bukan hal yang asik ^^; rancu menimbulkan perdebatan.
yang kyk gini namanya pergeseran nilai & norma ya namanya?
btw salam kenal bro….
Salam kenal juga Feb. Iya kira-kira begitu, kalau si DV bilangnya Degradasi Moral.
haiyah, aku meh komentar opo ki? hihihi. aku kadang masih bertanya: aku ini cinta sama diriku sendiri atau sudah mencintai pasanganku ya? mencintai itu berat, apalagi kalau kita masih mementingkan diri sendiri. tp mau merangkul pacar atau menciumi pacar, itu sih terserah aja, cuma kalau beneran cinta, biasanya bisa mengendalikan diri. eh ini nyambung sama postinganmu ini nggak sih? (lo, malah takon?)
Disambung sambungin juga bisa kok, tenang saja,… haha…
Ya biasanya sih memang bisa mengendalikan diri, tapi sejauh mana kira kira bisa mengendalikan diri?
– ahh, tapi memang enak sih cuddling sama pacar, ya kan? hehe. ABG sih.
kembali ke diri sendiri, toh nanti Karma akan dinikmati sendiri
Yang sering disini : “ah, itu udah biasa.”
Menurutku itulah yang menghalalkan hal2 seperti itu terjadi. Kalimat ini belum tentu orang yang melakukan tersebut yang mengatakan, melainkan orang2 yang melihat kejadian itu. Untuk beberapa hal, aku mencoba untuk mengatakan “Ah, jangan di’biasa’in.” walau udah telat banget…
Tapi yah, guruku pernah bilang, yang intinya: ” biar sejuta kalipun saya tegur anda, tindaklanjut anda tetaplah keputusan anda.”
Well, ajari saja anak-cucu kita tentang kebaikan2 kuno itu. Hidup lebih bermakna dengan pemikiran itu, agaknya. Yah, bayangin aja pacar kita pake bikini dipantai ; memang ‘menyenangkan’ tapi bukankah lebih asyik kalau ‘cuma kita yang tau’???
hehehehe
Cuman kita yang tahu ya? Setuju, hahahaha. Tapi anak2 sekarang banyak yang menganggap pasangan itu sebagai accessories aja, makanya mau dipamerin sana sini. Dunia penuh gemerlap begitu ._.