Apa Urusanmu Kalau Aku Suka Mbantal?
- July 3rd, 2010 | 562 views
- Posted in Coretan
- Write comment
Semalam aku mbantal 5 jam + 2 jam.
“Keinginan untuk menjadi orang lain, adalah penyia-nyiaan terhadap seorang Kamu.”
Itu sebetulnya sebuah kalimat dalam bahasa Inggris, aku coba terjemahkan ke bahasa Indo kok agak aneh ya jadinya? Yang penting kamu ngerti kan maksudnya?
Menjadi diri sendiri. Mungkin itu merupakan suatu patokan yang (terlalu banyak) dianut oleh manusia modern, terutama di kalangan anak-anak muda. Dan parahnya, kadang pedoman “be yourself” itu kecampur aduk dengan yang namanya Keras Kepala.
Misalnya, cewek yang luar biasa gemuknya, mengenakan T-Shirt ukuran Balita tanpa peduli apa kata orang, dan selalu berdalih “I just be myself, I like this!” — gimana aku gak ingin berkata “That’s not yourself! Itu malah seperti babi yang dibalut daun bambu siap potong dijadikan Bakcang!”
Maaf kalau perkataanku terlalu vulgar, tapi ya mau gimana lagi…
Dalam dunia persahabatan, karir dan rumah tangga, sering kita menemukan sosok seperti itu. Orang yang nggak mau diatur dan tidak mau diajak kompromi, terutama kalau melibatkan sebuah peraturan yang harus ditaati.
“I don’t give a shit, man…“
Contoh di dunia kerja yang paling sering aku temui disini adalah harassment atau disrespect behavior. Walaupun sudah tertulis dalam daftar peraturan di setiap tempat-tempat kerja, banyak orang yang kerap kali masih dengan bebasnya melontarkan guyonan-guyonan saru, rasis serta penggunaan kata fuck, fuckin, fucker yang terlalu berlebihan dalam percakapan sehari-hari.
Kalau ada yang tersinggung pasti berdalih “Ah, sudah biasa lah yang begini, jangan dianggap serius.”
Biarpun begitu, apa nggak bete coba kalau setiap saat selalu ngeliat orang-orang mengacungkan jari tengah mereka persis didepan hidungmu?
“This is who I am, you don’t like me, I don’t care.”
Pedoman orang-orang cuek biasanya begini. Aku juga dulu tipe begini sampai akhirnya beberapa keadaan memaksaku untuk berbelok sedikit dari gaya hidup seperti ini. Apa benar kita bisa berkata “I don’t care about you” kepada seseorang yang harus kita temui setiap hari di tempat kerja misalnya?
Ada suatu titik di dalam hidup kita dimana kita harus mulai belajar untuk saling berkompromi baik untuk kepentingan pribadi maupun bersama. Tujuannya apa? Ya berusaha untuk saling memuaskan kedua belah pihak. Kalau di dunia bisnis kesannya jadi kayak penjilat yah? Hahaha… kalau masalah penjilat sih tinggal masalah hati, kita sendiri yang tahu
Tetapi karena keterbatasan manusia, tentu saja memuaskan semua pihak itu hampir sesuatu yang nyaris mustahil. Di sinilah kemudian kita mulai masuk ke langkah selanjutnya setelah berkompromi, yaitu berkorban.
Musyawarah untuk mufakat. Jaman sekarang, namanya mufakat kayaknya semakin langka untuk ditemui yah? Sedikit-sedikit demo, dan sistematis paling beradab sekalipun adalah melalui jalur pengambilan suara alias voting.
Manusia mulai berani untuk memperjuangkan idealisasinya dengan sedemikian bebasnya — selain persaingan yang semakin keras, pemahaman bahwa kemenangan mutlak adalah syarat utama untuk menunjukkan betapa hebatnya sebuah individu itu.
Aku heran kok banyak sekali orang yang terkagum-kagum melihat seseorang yang jago berdebat bersenjatakan ratusan alasan-alasan disertai pembuktian-pembuktian ilmiah, kalau sedang beradu mulut, mulai dari Youtube, Online Game sampai ke Layar Kaca. Padahal bagiku mereka itu malah seperti orang yang sulit untuk bergaul… dan menyebalkan.
Bukan berdebat tapi berdiskusi.
Perbedaannya kalau menurutku sih, sebuah debat adalah ketika seseorang ingin mempengaruhi lawannya untuk mengaku “salah” dan menganggapnya benar; sedangkan diskusi adalah ketika seseorang berniat dan siap untuk merubah sebuah pendirian, prinsip dan pendapatnya pribadi ketika mendengarkan lawan bicara mulai bersuara. Bukan berarti seorang yang plin-plan lho… tentu saja harus dipertimbangkan antara perlu atau tidaknya.
Daripada melontarkan argumen dan penyangkalan secara tegas, dalam diskusi biasanya kita memaparkan sebuah solusi dan alternatif untuk dibicarakan dan tawar menawar pasti terjadi, dengan kepala dingin tentunya. Pernahkah kamu ngelihat seorang pembeli berantem di pasar gara-gara seorang Nenek menolak untuk menjual 1 kg buah Jeruk seharga Rp. 100,- kepadanya?
Mungkin sih ada… tapi gila aja itu orang kalau sampai ada…
Jadi, membabi-buta dengan sikap “be yourself” mungkin kurang baik juga untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembentukan jati diri dan karakter seseorang itu terjadi terus menerus seumur hidup, terutama ketika kita terus menerus bertemu dengan orang-orang baru ke dalam hidup kita.
Karena hal yang perlu kita jaga dalam hidup ini adalah integritas diri… bukan gaya & gengsi.
“Pokoknya gua harus mbantal 10 jam! Bodo amat lu besok mau naik apa, jalan kaki sana!”
*Brak!!!* (menggebrak meja dan meninggalkan ruangan).

“Be your self!”
kenyataannya setiap orang hampir selalu “menuntut” sesuatu dari orang lain. Yang secara sadar atau tidak sadar dia telah “mengusik” pribadi orang lain tersebut.
Sebenarnya tak perlu lagi untuk kebingungan dengan bagaimana menjadi diri sendiri atau segala hal mengenainya, sebab diri sendiri adalah dirimu, diri yang seutuhnya. Dimana diri seutuhnya adalah paket antara luar dan dalam dari dirimu.
kalau ada yang nggak suka kamu mbantal *timpuk aja pake bantal heheheh… idealmu kan begitu? Seperti yang saya miliki, diri sendiriku adalah bagaimana aku berpikir lepas, sebab ideal aku seperti ini. Semisal tipe kepribadian dibagi Sangunis, Melankolis, Koleris, Plegmatis. Dan orang menilai saya termasuk tipe salah satu diantaranya.
halahhh….kepanjangan jadi bingung nulis apa lagi.
Ya ini sih masalahnya bukan untuk mengerti bagaimana cara menjadi diri sendiri, tetapi lebih ke gimana buat latihan untuk membawa diri jadi seperti customer service… hahaha.
Kebebasan yang bertanggung jawab ya? Teorinya sih gitu.. Yah namanya hidup sama orang lain, kalo gak bisa dikompromikan ya mesti harus ada yang ngalah.
Riskan ya… ^^;
menjadi diri sendiri dan kepala batu bedanya tipis, apalagi orang kalo disinggung dikit biasanya ego duluan yang muncul.
Haha bener… “Kok kamu pake tindik sih, padahal kamu cowok” langsung deh berkobar kobar api emosinya… =)) – apalagi sama si bos ditempat kerja “Rambut dipotong sedikit lah, biar rapi.” Wah…
wah berat @.@
ngga brani banyak komen deh
tapi tetep ngangguk nganguk di bagian yang aku mengerti
Sori kalo berat, otak ku memang penuh dengan ganjelan seminggu yang lalu, ya jadinya kulampiaskan kesini saja sekalian “bertobat” hahahaha!
iki opo to….. ? jadi bingung,. tp ini topik menarik juga sih..
Be yourself.. menurutku itu spt gini
1. apa adanya, jadi ga ikut2an ama arus jaman.
2. Mengerti apa yang menjadi tujuan hidup.
3. Tidak ikut campur yg bukan urusannya. tp boleh juga kl memang kerjaannya jadi mediator.. tp ga masuk urusan rumah tangga orang. cuma hanya jadi penengah
4. Mudah memahami apa yang terjadi di lingkungan sekitar. ( Pintar menempatkan diri dimana kita berada)
kl berada di lingkungan kumuh, ya jgn bergaya mewah.
Jadi, meskipun kita dari lingkungan kaya jgnlah kita menunjukan kekayaan kita, namun bisa ngertiin dimana kita berada.
5. Usahakan selalu diposisi yang tepat, meskipun tidak sempurna.
Ya moga2 bisa memberikan pencerahan dan penyesatan yang baik bagi rekan2.. kl resumenya jelek ya jgn diikuti..
so, be yourself…
god bless
Weleh, kalo itu kayaknya cocok jadi Ketua Lurah ya… hihi, ya idealnya sih memang begitu.
tepaselira tuh katanya dulu waktu pelajaran PMP hihihi
EM
eh iya… aku udah lupa babar blas, hahaha….
orang bule mang suka gitu yah..apa didikan mereka dari orang tua udah gitu kali ya. Ga kayak didikan orang jawa gitu..unggah-ungguh, tepa slira, toleransi. Konsep be yourself j tetep ada batasnya.
Btw aku dulu ikut ekstra debat lho…wakakka..nyindir abis nih..seneng banget dulu kalo bisa menang adu argumen..hoho..makanya jadinya sekarang suka ngeyel..
mampir ke rumah baruku lagi mas bantal. hehe
Yah ganti-ganti url mlulu… penuh deh google readerku dengan 3 blogmu .. hahaha. Doyan ngeyel ya… gawat… tapi eyel-eyelan sih memang asik kadang, cuman ada beberapa orang yang cepet banget betenya kalo diajak eyel-eyelan, itu lho yang perlu diwaspadai hihihi.
Wew.
Postingan yang menarik, seperti biasa.
Sebenarnya orang-2 yang mengagung2kan “be yourself” or “this is me!” or lain2, mungkin mengatakan itu ketika zona nyamannya terganggu. But ada yang perlu diingat bahwa ketika kita ada di suatu komunitas, dimana di situ banyak orang, tentu juga ada peraturan yang harus ditaati. Misalnya kalau di kantor kan ada peraturan berpakaian yang sopan, toh, jadi kalau si babi gemuk itu tetap nekat, ya doi harus siap dipecat. Intinya, siap dgn konsekuensi yang didapat dr prinsip kita. Boleh-boleh saja merasa nyaman dengan diri sendiri, tapi ketika melibatkan orang lain, tentu harus juga mempertimbangkan rasa nyaman semuanya.
Ada saatnya kita harus mengorbankan sebuah prinsip dan harga diri kita, demi sebuah hubungan ya. Ngomong sih gampang memang, tapi praktekinya memang kadang menyakitkan hati ahahaha….
Emang paling males kalok ketemu orang keras kepala, kita jadi dosa ngrasani dan mendoakan yang jelek2 sama orang itu je
LOL, aku sih jarang-jarang aja ngrasani, dan nggak pernah ndoakan yang jelek2… jangan2 kamu yah x_X cukup mengkhawatirkan juga… lumayan kejam dirimu oii
kalimat “be yourself” biasanya manjur untuk menaikkan rasa percaya diri yang sedang drop
Oh ya? Kok menurutku nggak ngefek yah… haha. Buat menaikan rasap ercaya diri yang drop sih menurutku “You’re beautiful” atau “You’re handsome” ahahaha… #ngasal
Wah tulisanmu “Indonesia” sekali, tidak mencerminkan keegoisan Amerika… hahaha
Ayo bali omah!
Omahku ning kene…. dan sakjane aku ki rak nduwe omah dul. Isih nge-rent
I think this is a wise writing about Being Yourself
A short conclusion, I think, is, Being Yourself means just be your self (not your ego, not your pride, but the You inside), where you can laugh at your stupidity, yet not afraid to change for the better!
This is a kind of Freedom that God always want us to have
I luv the way you wrote about this topic ka! XD Deep mannn.. it’s deeepp! XD Yaayyy~
Senang melihat anda menikmati tulisan ini Nona Kikik.
Aduh mas tulisan mu yang ini kok bagus sekali, jadi sedikit instropeksi diri. Benar kata mas lebih baik diskusi dari pada berdebat, seperti di Indonesia yang isinya orang debat melulu tanpa pernah mendapatkan solusi dari apa yang mereka debatkan.
Lha isinya debat kusir doang, pengen kelihatan berisi padahal kosong mlompong…
hehehe, gw suka cara membandingkannya dengan seorang yang gemuk tapi memaksakan diri dengan pake baju bayi
tapi kadang memang susah menghilangkan sifat keras kepala, karena kita juga sudah merasa nyaman dan pantas dengan apa yang menjadi kebiasaan dan kesukaan kita.
Iya yah… susah banget memang kalo sudah merasa nyaman dan pantas…. Oh manusia… #tragedi
) — karena itulah kadang kalau ditempat kerja, kita memiliki 2 kepribadian, katakanlah tegas, tajam, disiplin dan galak, kalau jadi supervisor, sementara dirumah adalah lemah lembut, penyayang dan romantis sebagai seorang bapak
memang harus hati-hati menggunakan “be yourself” ini..lah kalo orangnya nakal dan menjengkelkan gimana? masa kita bilang “be yourself” ama dia…
umm..aku kurang suka sama orang yang suka bilang “ya gw begini, kalo lo ga bisa terima ya udah!” itu artinya kan dia ga mau berubah dan seolah-olah gak punya usaha untuk menjaga hubungan dengan kita..jadi seolah-olah (lagi) kita yang butuh banget ma dia, dan dia nothing to lose…
tapi kalo masalah mo mbantal 10 jam atau 12 jam sih…itu emang urusan lo!dan gw ga akan protes untuk itu!
xixixixixiix…
Iya bener kamu Yess. Kayaknya orang kalau nggak mau menyesuaikan diri itu kesanya memang butuh gak butuh ya?
— walau aku kadang egoisnya keluar juga sih, tapi ya sepertinya sambil menulis artikel ini aku merasa diingatkan untuk bisa sedikit lebih fleksibel aja
Demi dirimu besok aku mbantal 4 jam aja deh lololol.
aku belankangan ini lagi memikirkan hal yg kamu tulis ini. eh, pas dateng ke blogmu, kok ndilalah nyambung. aku masih berpikir, sampai sejauh mana sih kita bisa menjadi diri sendiri? kadang tekanan utk menyenangkan banyak pihak begitu besar (misalnya menyenangkan ortu, orang2 terdekat kita), dan akhirnya kita tak jarang justru tidak menjadi diri sendiri. bingung deh…
dari buku yang gw pernah baca, gw ambil sebuah quote-nya “saya tidak tahu kunci kesuksesan itu apa, tetapi kunci sebuah kegagalan adalah berusaha menyenangkan orang lain dan semua orang”.
Share my opini aja negh…
Menyenangkan orang lain sah – sah aja dan bisa jadi sebuah pahala buat kita karena kita melakukan sesuatu yang baik seperti memberikan sebuah kado atau memberikan perhatian atau hal laiinya, tetapi bila menyenangkan orang lainnya sudah merubah diri kita menjadi apa yang diinginkan oleh orang lain seperti kata ortu jadi dokter maka kita jadi dokter so menurut saya itu segh udah salah.
kenapa salah?? karena ini hidup kita so kita harus bertanggung jawab sepenuhnya dengan diri kita, orang lain tidak berhak menentukan, orang lain hanya berhak memberikan saran dan masukan, bila saran dan masukan itu menurut kita tidak baik dan tidak benar yah sudah… just do it what you believe dan lupakan semua saran lainnya yang menurut anda salah… just believe and do the best dan buktikan terhadap orang – orang bahwa jalan yang kalian ambil itu adalah benar ^^
Betul sekaliii
— cuman yang perlu di ingat, tetap jangan menutup diri dari kritik dan saran orang lain — pertimbangkan lah dengan hati terbuka
#sokBijak bener aku…
Mungkin kayaknya perlu di kasih presentase deh… hmmm 70% (diri sendiri) – 30% (mental customer service) gpp?
) –
Hhhmmm interesting article… dan mengalami kebingungan dalam mencerna artikel ini hehe…
Kalo menurut g segala sesuatu yang sudah mengarah ke hal negatif maka itu adalah salah, sama seperti kata “be yourself”, ya memang betul kita harus jadi diri kita sendiri bukan berarti kita pun tidak butuh saran dan kritik dari orang lain karena saran dan kritik itu berguna juga untuk merubah diri kita menjadi lebih baik lagi, kadang diri kita sendiri tidak bisa menilai apakah diri kita udah baik atau belum, benar atau salah dan lainnya.
Ya memang saran dan kritik dari orang lain itu menyakitkan, tetapi kalau kita bisa memikirkan saran dan kritik tsb dengan kepala dingin maka kita bisa menarik yang positifnya saja dan tentu yg negatifnya dapat disaring dan dibuang jauh – jauh…..
so tetep bisa jadi be yourself dan mengarah ke karakter yang lebih baik pula….. ^^
kita boleh “be yourself” tapi jangan “be yourself” kita merugikan orang lain, selama tidak merugikan orang lain menurut I sah – sah aja haha…..
Setuju banget
– nice komen.
Wah, ini pengalaman pribadi, Mas?
Saya bukan orang yang cuek, dan saya juga bukan orang yang terlalu peduli… Tapi, susah juga untuk membiarkan orang yang gak suka dengan kita, apalagi setiap hari ketemu. Solusinya ya jelas harus bicara empat mata….
Uhm… tentu saja pernah aku alami yang begini. Dan memang, empat mata itu efektif kok, kecuali memang benar-benar keras kepala, ya sudah… mungkin memang kita yang harus ngalah ya?
Wah, nek nemu orang kayak gitu bakalan tak tinggal lungo. Menyebalkan sekali
Haha, di cuekan saja. Aku paling jago nyuekin orang kalau memang sudah ndak bisa diajak bicara lagi…
bingung akh mau koment apa, lagi puyeng euy…
selamat malam saja……
Sama dong kita, puyeng mau nulis apa